25 bulan Juni tahun 2015 (malam kedelapan Ramadhan tahun ini)

KARAKTER

Yang terlintas dibenak saya ketika kata karakter muncul di dalam pikiran saya adalah sebuah pribadi yang dibentuk dengan waktu yang cukup lama, entah itu ketika usia anak-anak ataupun ketika seseorang mengalami masa perubahan karena berbagai factor. Karakter berbeda dengan sifat, setidaknya itu menurut saya. Maka tak heran mengapa dahulu guru Pendidikan Kewarganegaraan saya mengajarkan satu kalimat yang sampai saat ini saya masih berusaha untuk mengamalkannya. “Kenali orang dari karakternya, bukan dari sifatnya.” Itulah ucapan guru saya. Ketika mengenal seseorang kita seyogyanya mengenal lewat karakter yang ia miliki, bukan sifat ataupun tingkah lakunya. Mungkin ada saat dimana kita merasa terganggu dengan orang orang yang suka bercanda, yang tak bisa diajak berbicara serius. Jika kita hanya melihat sifatnya, kita akan merasa terganggu tapi kembali lagi ke karakter masing-masing orang. ia mungkin sedari kecil seperti itu, selalu diajak bercanda. Contoh lain adalah orang yang tak bisa diajak bercanda, yang hanya berbicara ketika suaranya betul betul diperlukan. Jika kita melihat ini maka kita akan merasa kaku dengan orang ini, ingin memulai pembicaraan pun terasa susah. Tapi mungkin  begitulah ia, tipe orang pendiam. Dan benar bahwa didunia ini tiap-tiap orang akan memiliki karakter yang berbeda, bahkan orang kembar sekalipun. Maka, kenali orang dengan karakternya bukan dari sifatnya.

Pembinaan karakter
Pembinaan karakter yang baik seharusnya ditanamkan sejak dini. Dirumah ini saya sedikit tidak begitu sependapat. Di lingkungan saya, mereka membiarkan anak-anak mendengar kata-kata yang tak seharusnya mereka – anak anak ini – dengar. Dengan mengucapkan kata-kata yang tak pantas atau belum pantas mereka dengar, orang-orang dewasa ini secara tidak langsung mengajarkan anak-anak ini kalimat-kalimat yang buruk. Ada satu hal lagi yang membuat tidak begitu nyaman. Ketika anak-anak ini mengucapkan kata-kata yang tidak atau belum pantas mereka ucapkan, orang-orang dewasa ini malah tertawa atau mengulang kata-kata yang dicapkan oleh anak itu. Setelah diucapakan mereka pun tertawa sehingga anak-anak ini mengulang lagi kata-kata yang tidak pantas itu yang kemudian membuat pola pikir anak-anak ini tergambar bahwa kejadian ini lucu dan boleh. Padahal seharusnya sebagai orang yang dewasa –orang yang seharusnya mengajarkan kebaikan dan nilai-nilai moral- kita harus menegur anak-anak ini jika ada ucapan yang tidak sepantasnya mereka ucapkan, tanpa senyuman ataupun tertawaan. Sehingga mereka akan mengerti bahwa apa yang mereka ucapkan adalah salah atau tidak pantas sehingga efek jangka panjangnya adalah mereka tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Berharap penerus bangsa ini tumbuh dengan wibawa dan kecerdasan baik dalam hal intelektual maupun emosional.
Penulis
                                                                                                                Seorang remaja yang berusaha dewasa J

Komentar